Apa Hukumnya Bayar Utang di Masjid dalam Islam ?

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Apa Hukumnya Bayar Utang di Masjid dalam Islam ?

Sering kali kita mempunyai utang kepada teman kita, dan tidak sengaja bertemu setelah selesai shalat di masjid.

Sehingga terpikirlah kita untuk membayar utang disana, biasanya alasannya “Selagi masih ingat”

Hal ini yang kemudian timbul menjadi sebuah pertanyaan, hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk melakukan jual beli di dalam masjid.

Apakah utang ini termasuk jual beli ? Mari kita simak jawaban berikut ini.

Apa Hukumnya Bayar Utang di Masjid dalam Islam ?

Kasus:

Bolehkah Bayar Utang di Masjid?
Bolehkah melunasi hutang di masjid? karena katanya di masjid tidak boleh jual beli. Kalau bayar utang, boleh?

Jawab:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Landasan Nash

Diantara aturan yang berlaku untuk masjid, tidak diperkenankan adanya jual beli, atau menawarkan produk di sana. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan, jika ada orang yang menawarkan barang di masjid, agar didoakan dengan doa buruk, seperti semoga dagangannya tidak laku. Ini sebagai hukuman baginya, karena masjid tidak dibangun untuk berjualan.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُوْلُوا لاَ أَرْبَحَ اللهُ تِجَارَتَكَ

“Jika kamu melihat ada orang menjual atau membeli di mesjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu.’” (HR. Turmudzi 1370, Ibn Hibban 1650 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Dalam riwayat lain, terdapat keteragan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّرَاءِ وَ الْبَيْعِ فِي الْمَسْجِد

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaiihi wa sallam melarang jual-beli di mesjid.” (HR. Ibnu Majah, 749)

Apakah Utang Termasuk Jual Beli?

Para ulama membedakan itu. Tidak ada unsur komersial dari pelunasan utang. Sehingga hukumnya berbeda dengan jual beli, dan boleh saja dilakukan di masjid.

Baca Juga:  Hukum Menyewakan Rumah yang Sedang Dikontrak dalam Islam

Pendapat Ulama tentang Utang

Dalam Mukhtashar Khalil – ulama Fiqh Maliki – dinyatakan,

وجاز بمسجد سكنى لرجل تجرد للعبادة، وعقد نكاح، وقضاء دين، وقتل عقرب، ونوم بقائلة

Boleh berada di masjid bagi orang yang tidak sedang ibadah, akad nikah, melunasi utang, membunuh kalajengking, atau tidur siang bagi yang istirahat. (Mukhtashar Khalil, hlm. 211)

Dalam kitab penjelasannya, Mawahib al-Jalil dinyatakan,

يعني أنه يجوز قضاء الدين في المسجد لأنه معروف بخلاف البيع والصرف

Artinya, boleh bayar utang di masjid. karena ini hal biasa. Berbeda dengan jual beli dan berdagang. (Mawahib al-Jalil, 7/616).

Jika Utangnya Besar, Makruh

Kita simak keterangan at-Thurthusyi dalam al-Hawadits wa al-Bida’

روى ابن القاسم عن مالك في ” المجموعة “: ” لا بأس أن يقضى الرجل في المسجد ذهبا، فأما ما كان بمعنى التجارة والصرف؛ فلا أحبه “.

Ibnul Qosim meriwayatkan dari Imam Malik dalam kitab al-Majmu’ah, “Tidak masalah seseorang melunasi utang emas di masjid. Namun jika utang ini mirip seperti jual beli, atau tukar mata uang, maka aku tidak menyukainya.”

Lalu at-Thruthusyi berkomentar,

وإنما أراد بالقضاء المعتاد الذي فيه يسير العمل، وقليل العين، وأما لو كان قضاء المال جسيما، يحتاج إلى المؤنة والوزن والانتقاد، ويكثر فيه العمل؛ فإنه مكروه

Yang beliau maksudkan adalah pelunasan utang yang biasa terjadi. Tidak butuh banyak aktivitas dan nilainya sedikit. Namun jika nilai utangnya besar, butuh banyak dihitung, banyak kerjaan, maka hukumnya makruh. (al-Hawadits wa al-Bida, hlm. 120)

Allahu a’lam

Nah, itulah jawaban tentang “Apa Hukumnya Bayar Utang di Masjid dalam Islam ?”

Maka dari itu hal yang dapat kita simpulkan adalah:

Boleh bayar utang dalam masjid asalkan jumlahnya sedikit (tidak perlu waktu untuk menghitungnya)

(Sumber: https://pengusahamuslim.com/4840-bolehkah-bayar-utang-di-masjid.html)

Artikel Terkait dan Menarik

Baca Juga:  Adakah Riba yang Halal menurut Pandangan Islam ?

Sebaik-baik pengingat adalah kematian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *