Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam

Sering kali jika kita sedang pergi berbelanja, tiba-tiba ada tawaran dari si Penjual berupa undian, apabila beli sekian maka berkesempatan mengikuti undian seperti ini.

Ternyata undian sudah dilakukan sejak zaman dahulu, dari kisah Nabi Yunus hingga kisah Nabi Muhammad beserta istri-istri beliau.

Namun adakah perbedaan dari kedua undian diatas ? Apakah ada undian yang dilarang dalam Islam ataukah semuanya tidak diperbolehkan ?

Mari kita simak jawaban tentang Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam

 

Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam

Tanya:

Tanya tadz, Kapan undian dibolehkan ya? Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Semata melakukan undian, bukanlah hal tercela. Orang soleh masa silam, termasuk para nabi, mereka melakukan undian.

Kisah Nabi Yunus

Dulu, waktu Nabi Yunus bin Mata ‘alaihis salam naik perahu, ternyata perahu yang beliau tumpangi kelebihan penumpang. Sehingga salah satu diantara mereka harus menceburkan diri ke laut. Dilakukanlah undian, ternyata yang mendapat undian itu adalah Nabi Yunus. Allah menceritakan,

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141)

Kisah Maryam

Dulu, ketika Maryam binti Imram masih kecil, ibunya menyerahkannya untuk berkhidmat bagi umat. Di saat itu ada beberapa orang yang berebut untuk mengasuh, ibunda nabi Isa. Salah satu yang terlibat adalah Nabi Zakariya. Ketika itu, beliau berharap memiliki anak, dan istri Zakariya adalah bibinya Maryam.

Baca Juga:  Hukum Menyewakan Rumah yang Sedang Dikontrak dalam Islam

Ketika semua merasa berhak untuk mengasuh Maryam, akhirnya meraka berundi. Allah ceritakan dalam al-Quran,

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44).

Undian Diantara Istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau memiliki beberapa istri. Semua memiliki hak lahir yang sama. Istri muda tidak lebih berhak terhadap beliau dari pada istri tua. Sehingga, ketika beliau hendak berangkat safar, semua berhak untuk menemani untuk berangkat safar bersama beliau.

Di saat itulah, dilakukan undian untuk menentukan siapa kanjeng ratu yang akan menemani suaminya.

Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak safar, beliau mengundi diantara istrinya. Siapa yang namanya keluar, beliau akan berangkat bersama istrinnya yang menang. (HR. Bukhari 2593, Muslim 7196 dan yang lainnya).

Batasan Undian yang Dibolehkan

Undian dibolehkan ketika di sana tidak ada unsur judi, unsur mukhatharah (untung-rugi), yang menang untung dan yang kalah rugi. Jika ada unsur untung rugi semacam ini, statusnya judi.

Dalam kasus undian para istri yang diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, tidak ada unsur untung-rugi. Yang ada adalah untung dan tidak rugi (kurang beruntung).

Baca Juga:  Hukum Jual Beli Perhiasan Emas Secara Kredit dalam Islam

Bagi istri yang namanya keluar, dia untung. Dia bisa berangkat bersama suaminya.

Bagi istri yang namanya belum keluar, dia tidak rugi.

Berbeda ketika ada orang yang memasang taruhan. Masing-masing membayar 10 rb, kemudian diundi. Siapa yang namanya keluar, dia berhak mengambil semuanya. Ada satu yang untung dan lainnya rugi. Ini judi.

Undian bisa Dilakukan Dalam 2 Keadaan

1. Ketika terjadi ibham al-huquq (tidak diketahui siapa yang berhak)

Untuk menentukan yang berhak, digunakan undian.

Misalnya, ada orang yang memiliki beberapa istri. Suatu ketika, dia menceraikan salah satu istrinya. Dan dia sudah tentukan istri yang dimaksud, namun dia lupa. Dalam kasus ini harus ada salah satu istri yang dicerai. Dan itu ditentukan dengan cara undian.

2. Ketika terjadi tazahum al-huquq (benturan hak beberapa orang yang terlibat)

Semuanya berhak dan semua ingin mendapatkannya. Di saat itu, digunakan undian untuk menentukan siapa yang berhak.

Misalnya, ada 3 orang yang berhak untuk melakukan adzan. Masing-masing memenuhi syarat untuk adzan, dan masing-masing berkeinginan untuk adzan. Cara menentukannya digunakan undian.

Ada guru yang membawa 2 roti yang hendak diberikan kepada muridnya yang berjumlah 10 siswa. Semua berkeinginan mendapatkannya. Sang guru menggunakan undian untuk menentukan siapa yang berhak.

Catatan:

Aturan ini berlaku jika ketidak jelasan tersebut terjadi pada hak manusia.

Jika ketidak jelasan terkait hak Allah, hubungan kita dengan Allah, maka tidak boleh digunakan undian.

Karena dalam kasus semacam ini, dipilih mana yang lebih meyakinkan.

Sebagai contoh,

Hari selasa kemarin, si A lupa belum mengerjakan salah satu shalat wajib. Dan dia juga lupa shalat apa yang belum dia kerjakan.

Dalam hal ini, si A tidak boleh menggunakan undian untuk menentukan shalat yang dimaksud. Namun yang harus dia lakukan adalah mengerjakan semua shalat 5 waktu. Sehingga dia benar-benar yakin, tidak ada shalat yang dia tinggalkan.

Baca Juga:  Adakah Riba yang Halal menurut Pandangan Islam ?

Allahu a’lam

Itulah penjelasan tentang Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam. Semoga kita bisa mendapatkan manfaat didalamnya.

 

Rujukan: Syarh Mandzumah al-Qawaid al-Fiqhyah, Imam as-Sa’di.

(Sumber: https://pengusahamuslim.com/4473-inilah-undian-yang-diperbolehkan-dalam-islam.html)

Sebaik-baik pengingat adalah kematian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *