Hukum Upah untuk Muadzin dan Imam Masjid dalam Islam

0
241

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Hukum Upah untuk Muadzin dan Imam Masjid dalam Islam

Muadzin adalah seseorang yang mengumandangkan Adzan ketika waktu shalat telah tiba, sedangkan Imam adalah seseorang yang memimpin jalannya shalat.

Pada umumnya disetiap mesjid memiliki Imam Rawatib dan juga Muadzin tetap (biasanya juga berprofesi sebagai marbot mesjid). Hal ini demikian sering kita jumpai disetiap mesjid, orang-orang yang tinggal dekat dengan mesjid menjadi anggota pengurus mesjid.

Beberapa diantaranya ada yang melakukan pekerjaan ini dengan sukarela, ada pula yang memang mesjid memberikan intensif bulanan kepada pengurus mesjid sebagai balas budi jerih payah pengurusan mesjid.

Namun, bagaimana hukumnya kasus seperti ini dalam pandangan islam?

Apakah boleh mengambil upah dari pekerjaan sebagai Muadzin tetap atau Imam Rawatib ?

Mari simak penjelasan berikut ini.


Hukum Upah untuk Muadzin dan Imam Masjid dalam Islam

Kasus:

Bagaimana Hukum Upah untuk Muadzin dan Imam Masjid dalam Islam ?

Jawab:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Untuk semua ibadah murni, tidak ada sisi manfaat langsung bagi orang lain, tidak boleh meminta upah di sana.

Landasan Nash

Dalam hadis dari Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

وَاتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا

Ambilah muadzin yang tidak meminta upah untuk adznnya. (HR. Ahmad 16270, Nasai 680 dan dishahihkan al-Arnauth)

Hadis ini menunjukkan, salah satu diantara muadzin yang baik adalah muadzin yang tidak mengambil upah. (Subulus Salam, 1/128).

Hanya saja, aturan berlaku, jika upah itu hanya untuk adzannya. Berbeda jika di sana ada bentuk aktivitas yang dia lakukan.

Pendapat Ulama

As-Shan’ani menyatakan,

ولا يخفى أنه – يعني حديث عثمان بن أبي العاص – لا يدل على التحريم وقيل: يجوز أخذها على التأذين في محل مخصوص إذ ليست على الأذان حينئذ بل على ملازمة المكان كأجرة الرصد

Hadis Utsman bin Abil ‘Ash tidaklah menunjukkan haramnya menerima upah untuk muadzin. Ada yang mengatakan, “Boleh mengambil upah untuk adzan dalam kondisi tertentu. Karena upahnya bukan sebatas untuk adzannya tapi untuk perjuangan dia yang selalu siaga, seperti upah untuk orang yang mengintai.” (Subulus Salam, 1/128).

Ketika di sana ada tugas tambahan, yang sifatnya bukan semata mengumandangkan adzan, para ulama membolehkan muadzin digaji. Merek digaji karena telah memberikan layanan bagi kaum muslimin.

Ibnu Qudamah mengatakan,

لأن بالمسلمين حاجة إليه وقد لا يوجد متطوع به وإذا لم يدفع الرزق فيه يعطل

Karena kaum muslimin membutuhkan orang semacam ini. Sementara bisa jadi tidak ada orang yang mau secara suka rela melakukannya. Jika dia tidak digaji, bisa menelantarkan hidupnya. (al-Mughni, 1/460)

Selama di tengah kaum muslimin tidak ada orang yang secara suka rela melayani kebutuhan mereka dalam menjaga aktivitas ibadah, maka boleh memperkerjakan orang untuk menjalani tugas itu dan dia digaji.

Allahu a’lam.

 

Sumber: https://pengusahamuslim.com/5212-hukum-upah-untuk-muadzin-dan-imam-masjid.html

Facebook Comments

Bantu Saya menilai Postingan Ini

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here