Categories
Belajar Bahasa Arab Belajar Bahasa Asing

Belajar Bahasa Arab Online Gratis Pemula hingga Master

Kali ini Ikhsanisme akan membagikan Kursus Online Belajar Bahasa Arab Online Gratis Pemula hingga Master

Banyak hal yang menjadi alasan mengapa kita harus belajar bahasa Arab. Salah satunya adalah, Bahasa Arab telah resmi menjadi Bahasa Internasional (Bahasa Resmi PBB) pada 18 Desember 1973 lalu.

Mari kita list alasan-alasan kita untuk belajar Bahasa Arab

  1. Sudah resmi menjadi Bahasa Internasional
  2. Ingin melanjutkan studi ke Negara yang berbahasa Arab
  3. Bahasa pengantar Al-Quran dan Hadits dalam Belajar Agama Islam
  4. Keindahan bahasa dan sastra Arab yang diakui dunia

Keempat alasan itu menjadi lumrah bagi kita untuk memulai belajar bahasa arab.

Belajar Bahasa Arab Online Gratis Pemula hingga Master

Belajar Bahasa Arab Online di Situs Ikhsanisme.com, bukan hanya postingan materi di situs ini saja, juga akan dipandu melalui video pelajaran via Youtube dan linknya akan saya berikan nantinya.

Untuk Belajar Bahasa Arab Online nanti, kita akan mengawali dengan materi-materi yang bersifat umum digunakan oleh orang Arab, khususnya percakapan sehari-hari

Setelah itu kita akan lanjutkan pada Tata Bahasa dan cara membuat kalimat, hingga cara membaca kitab gundul (tulisan arab tanpa harakat/tanda baca)

Tidak seperti bahasa lainnya, seperti bahasa inggris, kalian bisa menggunakannya di Negara Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara yang bahasa Nasionalnya adalah bahasa Inggris

Bahasa Arab bisa digunakan di Mesir, Arab Saudi, Dubai, dan negara-negara lainnnya yang telah menerapkan bahasa arab sebagai salah satu bahasa nasionalnya.

Belajar Bahasa Arab Online Gratis

 

Garis Besar Materi

Untuk Belajar Bahasa Arab Online nanti, kita akan mengawali dengan materi-materi yang bersifat umum digunakan oleh orang Arab, khususnya percakapan sehari-hari

Setelah itu kita akan lanjutkan pada Tata Bahasa dan cara membuat kalimat, hingga cara membaca kitab gundul (tulisan arab tanpa harakat/tanda baca).

Garis besar materi sebagai berikut:

  1. Pengenalan Bahasa Arab
  2. Cara membaca huruf hijaiyah
  3. Percakapan dasar sehari-hari
  4. Cara membuat kalimat lengkap
  5. Cara membaca kitab gundul

Silahkan klik Icon dibawah ini untuk menuju:

Daftar Isi Materi Belajar di Situs

Belajar Bahasa Arab dari NOL di Youtube

Percakapan & Kosakata Bahasa Arab di Youtube

Semoga Bermanfaat. Silahkan share ke teman kalian

Categories
Belajar Bahasa Asing Belajar Bahasa Jepang

Belajar Bahasa Jepang Online Gratis Pemula hingga Master

Kali ini Ikhsanisme akan membagikan Kursus Online Belajar Bahasa Jepang Online Gratis Pemula hingga Master

Pertama, hal yang perlu dilakukan adalah mengenal bahasa jepang itu sendiri. Bahasa dan budaya tidak bisa dipisahkan keberadaannya dalam belajar bahasa asing.

Tentu saja sembari kita belajar bahasa, kita juga akan belajar budayanya.

belajar bahasa jepang

Belajar Bahasa Jepang Online Gratis Pemula hingga Master

Belajar Bahasa Jepang Online di Situs Ikhsanisme.com, bukan hanya postingan materi di situs ini saja, juga akan dipandu melalui video pelajaran via Youtube dan linknya akan saya berikan nantinya.

Untuk Belajar Bahasa Jepang Online nanti, kita hanya akan berfokus untuk pada tes Nomor 1 nanti. Tes tersebut menggunakan level N5 – N1.

Tidak seperti bahasa lainnya, seperti bahasa inggris, kalian bisa menggunakannya di Negara Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara yang bahasa Nasionalnya adalah bahasa Inggris

Juga seperti Bahasa Arab bisa digunakan di Mesir, Arab Saudi, Dubai, dan negara-negara lainnnya.

Khusus bahasa jepang, hanya digunakan di Negara Jepang saja, rasakan sendiri ke Jepang dan nikmati sensasi negara tersebut. Dari segi pelayanan umum, teknologi, budaya, hingga adab sopan santunnya.

Ada beberapa jenis tes untuk mengukur kemampuan Bahasa Jepang Kalian.

Tes Kemampuan Bahasa Jepang JLPT

Tes Kemampuan Bahasa Jepang(JLPT)adalah ujian untuk menilai kemampuan bahasa Jepang yang ditujukan bagi orang-orang yang bahasa asalnya bukan bahasa Jepang.

Ada 5 level yang diujikan pada JLPT, yaitu mulai dari yang tertinggi N1, hingga yang terendah N5. Level yang umumnya diterima pada saat mencari kerja adalah N2 ke atas.

Dilaksanakan di 65 negara di dunia, umumnya 2 kali setahun yaitu pada bulan Juli dan Desember.

Garis Besar Materi

Materi Belajar Bahasa Jepang terbagi berdasarkan Level masing-masing. Kita akan memulainya dengan Level N5

Isi dari materinya adalah pengenalan bahasa jepang, huruf dan angka, pelafalan bunyi huruf, dan percakapan dasar.

Setelah itu, akan dimulai belajar tata bahasa hingga ke Level N1

Silahkan klik Icon dibawah ini untuk menuju:

Daftar Isi Materi Belajar di Situs

Belajar Bahasa Jepang dari NOL di Youtube

Percakapan & Kosakata Bahasa Jepang di Youtube

Semoga Bermanfaat. Silahkan share ke teman kalian

Categories
Aqidah Ibadah Praktis Islam

Cara Cepat menjadi Kaya dengan Doa Nabi Sulaiman

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Cara Cepat menjadi Kaya dengan Doa Nabi Sulaiman

Banyak diantara kita yang ingin cepat kaya bukan ? Karena tuntutan kebutuhan sehari-hari, kebutuhan pendidikan, dan sebagainya.

Doa Nabi Sulaiman telah terkenal dikalangan kita sebagai permohonan kepada Allah.

Bagaimana doanya ?

Mari kita simak jawaban tentang Cara Cepat menjadi Kaya dengan Doa Nabi Sulaiman

Cara Cepat menjadi Kaya dengan Doa Nabi Sulaiman

Cara Cepat menjadi Kaya dengan Doa Nabi Sulaiman

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustadz..

bolehkah kita sebagai muslim mengamalkan doa Nabi Sulaiman, seperti di QS. Shad: 38, agar dimudahkan dalam hal rejeki dan harta?.. terima kasih.

Jawaban:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Wa “alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Doa yang dimaksud adalah permohonan Nabi Sulaiman ‘alaihis shalatu was salam yang Allah ceritakan dalam al-Quran,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Sulaiman berdoa: “Ya Rabku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang-pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Shad: 35)

Salah satu diantara kekuasaan Sulaiman, yang tidak mungkin dimiliki orang lain adalah beliau bisa mengendalikan dan menguasai jin. Sehingga semua jin menjadi tunduk dan patuh kepada Sulaiman.

Beliau juga bisa menguasai binatang. Sehingga pasukan Sulaiman tidak hanya manusia, tapi mencakup jin dan binatang.

Allah kabulkan permohonan Sulaiman, sebagai tanda bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah kuasa untuk melakukan apapun sesuai yang Dia kehendaki.

Termasuk memberikan kekuasaan kepada salah satu dari hamba-Nya yang tidak lazim dimiliki manusia.

Makna Doa Sulaiman

Mengenai makna doa Sulaiman, “anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang-pun sesudahku.” Di sana ada 2 pendapat ulama,

Pertama, beliau memohon kepada Allah agar tidak ada yang mampu menggulingkan kekuasaan beliau sampai beliau meninggal.

Kedua, beliau memohon kepada Allah agar beliau diberi kekuasaan yang tidak layak untuk dimiliki siapapun setelah beliau.

Al-Hafidz Ibnu Katsir lebih menguatkan pendapat kedua. Ibnu Katsir mengatakan,

والصحيح أنه سأل من الله تعالى ملكا لا يكون لأحد من بعده من البشر مثله

Yang benar, Sulaiman memohon kepada Allah kerajaan yang tidak boleh dimiliki oleh manusia siapapun setelah beliau. (Tasir Ibnu Katsir, 7/70).

Karena itulah, siapapun manusia, dia tidak bisa memiliki kemampuan sebagaimana Sulaiman. Sehingga tidak ada manusia yang bisa menguasai jin atau binatang, kecuali atas mukjizat dari Allah.

Termasuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Beliau tidak mau melangkahi doa Sulaiman ini.

Suatu ketika, pada saat mengimami shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan gerakan yang berbeda di luar kebiasaannya. Pagi harinya, Beliau menceritakan,

إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ البَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ: رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي فَرَدَّهُ خَاسِئًا

“Ada jin ifrit menampakkan diri kepadaku tadi malam, untuk mengganggu shalatku. Kemudian Allah memberikan kemampuan kepadakku untuk memegangnya. Aku ingin untuk mengikatnya di salah satu tiang masjid, sehingga pagi harinya kalian semua bisa melihatnya. Namun saya teringat doa saudaraku Sulaiman: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku.” Kemudian beliau melepaskan jin itu dalam keadaan terhina.” (HR. Bukhari 461 & Muslim 541).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau mengikat jin itu di tiang masjid. Karena jika hal itu beliau lakukan, berarti beliau telah menguasai jin. Sementara kemampuan bisa menguasai jin, merupakan keistimewaan Sulaiman. Karena teringat doa Sulaiman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan jin itu.

Apakah Doa ini Bisa Ditiru?

Cara Cepat menjadi Kaya dengan Doa Nabi Sulaiman ?Ada beberapa doa nabi yang itu bagian dari mukjizat beliau. Sehingga hanya berlaku untuk beliau dan bukan untuk ditiru. Karena manusia selain mereka, tidak mungkin memiliki mukjizat.

Seperti doanya Nabi Isa ‘alaihis shalatu was salam yang beliau memohon kepada Allah agar diturunkan hidangan dari langit. Allah menceritakan doa Nabi Isa,

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآَخِرِنَا وَآَيَةً مِنْكَ

Isa bin Maryam berdoa, “Ya Allah, turunkan untuk kami hidangan dari langit, yang hari turunnya akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau…” (QS. al-Maidah: 114).

Termasuk juga doa Nabi Musa ‘alaihis shalatu was salam, yang beliau memohon kepada Allah agar bisa melihat-Nya. Allah ceritakan dalam al-Quran,

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا

Musa berdoa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.” (QS. al-A’raf: 143).

Atau doa Nabi Ibrahim, agar beliau diperlihatkan bagaimana cara Allah menghidupkan makhluk yang telah mati. Allah sebutkan doa ini dalam al-Quran,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)…” (QS. al-Baqarah: 260).

Termasuk diantaranya adalah doa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Karena doa ini bagian dari mukjizat beliau, maka tidak berlaku untuk yang lain. Sehingga orang lain tidak boleh menjadikannya sebagai doa, baik tujuannya untuk mendapatkan kekuasaan atau memperlancar rizki atau tujuan lainnya.

Allahu a’lam.

Itulah penjelasan tentang Cara Cepat menjadi Kaya dengan Doa Nabi Sulaiman. Semoga kita bisa mendapatkan manfaat didalamnya.

 

(Sumber: https://pengusahamuslim.com/5206-ingin-kaya-dengan-doa-nabi-sulaiman.html)

Categories
Fiqih Muamalah Islam Riba

Adakah Riba yang Halal menurut Pandangan Islam ?

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Adakah Riba yang Halal menurut Pandangan Islam

Pada masa ini, sangat banyak transaksi yang terjangkit dengan virus Riba. Bukan hanya dari bisnis kredit yang berbunga, bahkan dalam utang piutang pun terdapat transaksi riba didalamnya.

Namun dalam surah Ar-Rum terdapat ayat yang berbunyi “Sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah“, hal ini yang menjadi pertanyaan bagi kita, adakah riba yang boleh ?

Mari kita simak jawaban tentang Adakah Riba yang Halal menurut Pandangan Islam ?

Adakah Riba yang Halal menurut Pandangan Islam ?

Kasus:

Katanya di surat Ar-Rum dinyatakan bahwa ada riba itu tidak dilarang. Apa benar? karena di ayat itu, tidak disebutkan ancaman maupun larangan apapun. Mohon pencerahannya!

Jawab:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Landasan Nash

Allah berfirman,

وَمَا آَتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ

“Sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.” (QS. ar-Rum: 39).

Al-Qurthubi membawakan beberapa penjelasan dari para ulama tafsir untuk ayat ini. Kita simak penjelasan mereka,

Pertama, keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau menjelaskan,

“وما آتيتم من ربا” يريد هدية الرجل الشيء يرجو أن يثاب أفضل منه، فذلك الذي لا يربو عند الله ولا يؤجر صاحبه ولكن لا إثم عليه

“Riba yang kalian berikan” maksudnya adalah terkait orang yang memberikan hadiah sesuatu kepada orang lain, dengan mengharapkan ganti yang lebih baik. Pemberian semacam ini tidak akan berkembang di sisi Allah, orangnya tidak mendapat pahala. Meskipun dia juga tidak mendapat dosa.

Keterangan lain disampaikan Ikrimah. Beliau mengatakan,

الربا ربوان، ربا حلال وربا حرام، فأما الربا الحلال فهو الذي يهدى، يلتمس ما هو أفضل منه

Riba itu ada 2: riba halal dan riba haram. Riba halal adalah orang yang menghadiahkan sesuatu kepada orang lain, dengan harapan akan diganti yang lebih baik dari apa yang dia berikan.

Keterangan lain juga disampaikan ad-Dhahak,

هو الربا الحلال الذي يهدى ليثاب ما هو أفضل منه، لا له ولا عليه، ليس له فيه أجر وليس عليه فيه إثم

Itulah riba yang halal, yaitu orang yang memberi hadiah dengan maksud untuk mendapatkan bayaran yang lebih banyak. Tidak ada kelebihan untuknya dan tidak ada yang salah darinya. Artinya, tidak ada pahala untuknya dan tidak ada dosa darinya.

Al-Qurthubi menyimpulkan,

قال ابن عباس وابن جبير وطاوس ومجاهد: هذه آية نزلت في هبة الثواب

“Ibnu Abbas, Ibnu Jubair, Thawus, dan Mujahid mengatakan, ayat ini turun terkait hibah tsawab.” (Tafsir al-Qurthubi, 14/36)

Itulah hibah tsawab, seseorang memberi dengan maksud agar yang diberi memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang dia berikan.

Perbedaan Pendapat Ulama

Ulama berbeda pendapat dalam memahami hibah tsawab.

Pertama

Pertama, hibah tsawab hakekatnya jual beli. sehingga hukum yang berlaku di dalamnya, mengikuti hukum jual beli. Karena mengikuti hukum jual beli maka harus:

[1] Disyaratkan dalam akad

[2] Ukuran kuantitasnya jelas.

Ini merupakan pendapat jumhur ulama, Hanafiyah, Malikiyah, Hambali, dan Syafiiyah menurut pendapat yang lebih terkenal.

Karena statusnya transaksi jual beli, maka di sana ada hak khiyar, hak mengembalikan karena aib, dan jika sudah terjadi serah terima (taqabudh) maka tidak bisa dibatalkan.

Kedua

Kedua, bahwa hibah tsawab bukan jual beli, tapi hibah. Sebagaimana namanya. Dan tidak bisa diubah menjadi jual beli melihat namanya, sementara jual beli bertentangan dengan hibah. Untuk hibah, sifatnya murni sosial. Ini adalah pendapat sebagian Syafiiyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Karena ini tergolong hibah maka tidak boleh meminta ganti atau kembalian dari penerima.

Dan pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat jumhur ulama.

Dengan pertimbangan,

[1] Maksud dari transaksi ini bukan sebatas hibah. Karena pihak yang memberi (wahib) mensyaratkan adanya ganti dari orang yang mendapat hibah. Sementara transaksi dinilai dari hakekat dan konsekuensinya dan bukan semata dari namanya.

[2] Dinyatakan dalam hadis, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’,

الوَاهِبُ أَحَقُّ بِـهِبَتِهِ مَا لَـمْ يُثَبْ عَلَيهَا

Orang yang memberi hibah lebih berhak terhadap hibahnya, selama tidak diberi balasan untuk hibahnya. (HR. Ibnu Majah 2477 namun hadis ini didhaifkan para ulama karena ada perawi yang bernama Ibrahim bin Ismail. Sementara Amr bin Dinar dengan Abu Hurairah, munqathi’. Demikian keterangan al-Kinani dalam Misbah az-Zujajah. (2/236)

Hanya saja, dinyatakan al-Baihaqi dalam al-Kubro (no. 12383), bahwa ada riwayat yang lebih diterima (mahfudz) dari Umar bin Khatab secara mauquf,

مَنْ وَهَبَ هِبَةً فَلَمْ يُثَبْ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِبَتِهِ إِلاَّ لِذِى رَحِمٍ

Siapa yang menghibahkan sesuatu kemudian tidak dibalas, maka dia lebih berhak terhadap hibahnya. Kecuali hibah untuk kelurga.

Al-Baihaqi menyebutkan komentar al-Bukhari yang menyatakan, “Ini lebih shahih”

Hadis ini juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Talkhis al-Habir (3/171).

Kesimpulan

Dengan demikian, penyebutan riba halal seperti yang dinyatakan Ikrimah hanyalah istilah. Karena hakekatnya bukan riba. Tapi pemberian dengan maksud bisa mendapatkan imbalan lebih banyak. Dan itu hukumnya seperti jual beli.

Allahu a’lam

Itulah penjelasan tentang Adakah Riba yang Halal menurut Pandangan Islam ? Semoga kita bisa mendapatkan manfaat didalamnya.

 

(Sumber: https://pengusahamuslim.com/5228-ada-riba-yang-halal.html)

Categories
Fiqih Muamalah Islam

Bolehkah Berutang dari Dana Masjid dalam Islam ?

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Bolehkah Berutang dari Dana Masjid dalam Islam ?

Setiap masjid memiliki pengurus yang melayani para jemaah muslim untuk menginfaqkan hartanya di jalan Allah

Kadang kita dengan ada masjid yang memiliki saldo hingga mencapai ratusan juta rupiah. Ada juga masjid yang saldonya tiap pekan selalu habis, biasanya karena ada pembangunan bagian masjid.

Karena banyaknya saldo masjid, apakah kita boleh mengambil utang dari saldo atau dana masjid tersebut ?

Mari kita simak jawaban tentang Bolehkah Berutang dari Dana Masjid dalam Islam ?

Bolehkah Berutang dari Dana Masjid dalam Islam ?

Kasus:

Bolehkah kita hutang ke masjid, karena dana masjid sisa banyak? Jadi Takmir meminjamkan dana masjid untuk orang yang tidak mampu di sekitar masjid. Apakah hal itu diperbolehkan ?

Jawab:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Harta yang diinfakkan untuk masjid, statusnya adalah wakaf untuk masjid. Sementara takmir sebagai penerima wakaf, merupakan nadzir wakaf (pengelola wakaf).

Mengingat itu ditujukan untuk masjid maka tidak boleh digunakan untuk selain kepentingan masjid. Termasuk dipinjamkan ke orang lain. Karena ini bagian dari sikap tidak amanah.

Ketika jamaah menginfakkan hartanya ke masjid, dia menginginkan agar uang dimanfaatkan untuk masjid. ketika takmir menggunakannya untuk selain tujuan jamaah, berarti takmir telah menyalahi amanah.

Syaikh Zakariya al-Anshari – ulama Syafiiyah – menyatakan,

ليس للناظر أخذ شيء من مال الوقف على وجه الضمان، فإن فعل ضمنه

Tidak boleh bagi nadzir wakaf (pengelola wakaf) mengambil sebagian harta wakaf untuk diutang. Jika dia langgar, wajib menanggung ganti rugi. (Asna al-Mathalib, 2/472).

Beliau juga mengatakan dalam Syarhul Bahjah,

ولا يجوز أن يأخذ من مال الوقف شيئاً على أن يضمنه، فإن فعل ضمنه، وإقراض مال الوقف كإقراض مال الصبي

Tidak boleh mengambil bagian dari harta wakaf untuk diutangkan. Jika dilanggar, wajib ganti rugi. Mengutangkan harta wakaf, seperti mengutangkan harta anak kecil. (Syarh al-Bahjah).

Mengutangkan harta anak kecil adalah sikap tidak amanah yang dilakukan oleh pihak yang mengurusi anak itu.

Dalam fatwa islam dinyatakan,

الأموال التي تُجمع للقيام على المساجد بما تحتاجه هي أموالٌ وقفية لا يحل للقائم عليها أن يقترض منها لنفسه ، ولا أن يُقرض منها أحداً ، فهو مؤتمن على هذا المال لإنفاقه في المصرف الذي حدده المتبرع

Harta yang diserahkan untuk mengurusi kebutuhan masjid adalah harta wakaf. Tidak boleh bagi pengelola untuk meminjam harta itu, baik untuk kepentingan pribadi, maupun diutangkan ke orang lain. Pengelola harta masjid mendapat amanah untuk menjaga harta ini, agar dialokasikan untuk kepentingan yang diinginkan orang yang infaq. (Fatwa Islam, no. 158131)

Allahu a’lam.

Itulah penjelasan tentang Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam. Semoga kita bisa mendapatkan manfaat didalamnya.

 

(Sumber: https://pengusahamuslim.com/4737-boleh-utang-dari-infaq-masjid.html)

Categories
Fiqih Muamalah Islam

Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam

Sering kali jika kita sedang pergi berbelanja, tiba-tiba ada tawaran dari si Penjual berupa undian, apabila beli sekian maka berkesempatan mengikuti undian seperti ini.

Ternyata undian sudah dilakukan sejak zaman dahulu, dari kisah Nabi Yunus hingga kisah Nabi Muhammad beserta istri-istri beliau.

Namun adakah perbedaan dari kedua undian diatas ? Apakah ada undian yang dilarang dalam Islam ataukah semuanya tidak diperbolehkan ?

Mari kita simak jawaban tentang Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam

 

Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam

Tanya:

Tanya tadz, Kapan undian dibolehkan ya? Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Semata melakukan undian, bukanlah hal tercela. Orang soleh masa silam, termasuk para nabi, mereka melakukan undian.

Kisah Nabi Yunus

Dulu, waktu Nabi Yunus bin Mata ‘alaihis salam naik perahu, ternyata perahu yang beliau tumpangi kelebihan penumpang. Sehingga salah satu diantara mereka harus menceburkan diri ke laut. Dilakukanlah undian, ternyata yang mendapat undian itu adalah Nabi Yunus. Allah menceritakan,

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141)

Kisah Maryam

Dulu, ketika Maryam binti Imram masih kecil, ibunya menyerahkannya untuk berkhidmat bagi umat. Di saat itu ada beberapa orang yang berebut untuk mengasuh, ibunda nabi Isa. Salah satu yang terlibat adalah Nabi Zakariya. Ketika itu, beliau berharap memiliki anak, dan istri Zakariya adalah bibinya Maryam.

Ketika semua merasa berhak untuk mengasuh Maryam, akhirnya meraka berundi. Allah ceritakan dalam al-Quran,

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44).

Undian Diantara Istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau memiliki beberapa istri. Semua memiliki hak lahir yang sama. Istri muda tidak lebih berhak terhadap beliau dari pada istri tua. Sehingga, ketika beliau hendak berangkat safar, semua berhak untuk menemani untuk berangkat safar bersama beliau.

Di saat itulah, dilakukan undian untuk menentukan siapa kanjeng ratu yang akan menemani suaminya.

Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ

Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak safar, beliau mengundi diantara istrinya. Siapa yang namanya keluar, beliau akan berangkat bersama istrinnya yang menang. (HR. Bukhari 2593, Muslim 7196 dan yang lainnya).

Batasan Undian yang Dibolehkan

Undian dibolehkan ketika di sana tidak ada unsur judi, unsur mukhatharah (untung-rugi), yang menang untung dan yang kalah rugi. Jika ada unsur untung rugi semacam ini, statusnya judi.

Dalam kasus undian para istri yang diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, tidak ada unsur untung-rugi. Yang ada adalah untung dan tidak rugi (kurang beruntung).

Bagi istri yang namanya keluar, dia untung. Dia bisa berangkat bersama suaminya.

Bagi istri yang namanya belum keluar, dia tidak rugi.

Berbeda ketika ada orang yang memasang taruhan. Masing-masing membayar 10 rb, kemudian diundi. Siapa yang namanya keluar, dia berhak mengambil semuanya. Ada satu yang untung dan lainnya rugi. Ini judi.

Undian bisa Dilakukan Dalam 2 Keadaan

1. Ketika terjadi ibham al-huquq (tidak diketahui siapa yang berhak)

Untuk menentukan yang berhak, digunakan undian.

Misalnya, ada orang yang memiliki beberapa istri. Suatu ketika, dia menceraikan salah satu istrinya. Dan dia sudah tentukan istri yang dimaksud, namun dia lupa. Dalam kasus ini harus ada salah satu istri yang dicerai. Dan itu ditentukan dengan cara undian.

2. Ketika terjadi tazahum al-huquq (benturan hak beberapa orang yang terlibat)

Semuanya berhak dan semua ingin mendapatkannya. Di saat itu, digunakan undian untuk menentukan siapa yang berhak.

Misalnya, ada 3 orang yang berhak untuk melakukan adzan. Masing-masing memenuhi syarat untuk adzan, dan masing-masing berkeinginan untuk adzan. Cara menentukannya digunakan undian.

Ada guru yang membawa 2 roti yang hendak diberikan kepada muridnya yang berjumlah 10 siswa. Semua berkeinginan mendapatkannya. Sang guru menggunakan undian untuk menentukan siapa yang berhak.

Catatan:

Aturan ini berlaku jika ketidak jelasan tersebut terjadi pada hak manusia.

Jika ketidak jelasan terkait hak Allah, hubungan kita dengan Allah, maka tidak boleh digunakan undian.

Karena dalam kasus semacam ini, dipilih mana yang lebih meyakinkan.

Sebagai contoh,

Hari selasa kemarin, si A lupa belum mengerjakan salah satu shalat wajib. Dan dia juga lupa shalat apa yang belum dia kerjakan.

Dalam hal ini, si A tidak boleh menggunakan undian untuk menentukan shalat yang dimaksud. Namun yang harus dia lakukan adalah mengerjakan semua shalat 5 waktu. Sehingga dia benar-benar yakin, tidak ada shalat yang dia tinggalkan.

Allahu a’lam

Itulah penjelasan tentang Contoh Undian yang Diperbolehkan dalam Islam. Semoga kita bisa mendapatkan manfaat didalamnya.

 

Rujukan: Syarh Mandzumah al-Qawaid al-Fiqhyah, Imam as-Sa’di.

(Sumber: https://pengusahamuslim.com/4473-inilah-undian-yang-diperbolehkan-dalam-islam.html)

Categories
Fiqih Muamalah Islam

Apa Hukumnya Bayar Utang di Masjid dalam Islam ?

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Apa Hukumnya Bayar Utang di Masjid dalam Islam ?

Sering kali kita mempunyai utang kepada teman kita, dan tidak sengaja bertemu setelah selesai shalat di masjid.

Sehingga terpikirlah kita untuk membayar utang disana, biasanya alasannya “Selagi masih ingat”

Hal ini yang kemudian timbul menjadi sebuah pertanyaan, hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk melakukan jual beli di dalam masjid.

Apakah utang ini termasuk jual beli ? Mari kita simak jawaban berikut ini.

Apa Hukumnya Bayar Utang di Masjid dalam Islam ?

Kasus:

Bolehkah Bayar Utang di Masjid?
Bolehkah melunasi hutang di masjid? karena katanya di masjid tidak boleh jual beli. Kalau bayar utang, boleh?

Jawab:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Landasan Nash

Diantara aturan yang berlaku untuk masjid, tidak diperkenankan adanya jual beli, atau menawarkan produk di sana. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan, jika ada orang yang menawarkan barang di masjid, agar didoakan dengan doa buruk, seperti semoga dagangannya tidak laku. Ini sebagai hukuman baginya, karena masjid tidak dibangun untuk berjualan.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيْعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُوْلُوا لاَ أَرْبَحَ اللهُ تِجَارَتَكَ

“Jika kamu melihat ada orang menjual atau membeli di mesjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu.’” (HR. Turmudzi 1370, Ibn Hibban 1650 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Dalam riwayat lain, terdapat keteragan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنِ الشِّرَاءِ وَ الْبَيْعِ فِي الْمَسْجِد

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaiihi wa sallam melarang jual-beli di mesjid.” (HR. Ibnu Majah, 749)

Apakah Utang Termasuk Jual Beli?

Para ulama membedakan itu. Tidak ada unsur komersial dari pelunasan utang. Sehingga hukumnya berbeda dengan jual beli, dan boleh saja dilakukan di masjid.

Pendapat Ulama tentang Utang

Dalam Mukhtashar Khalil – ulama Fiqh Maliki – dinyatakan,

وجاز بمسجد سكنى لرجل تجرد للعبادة، وعقد نكاح، وقضاء دين، وقتل عقرب، ونوم بقائلة

Boleh berada di masjid bagi orang yang tidak sedang ibadah, akad nikah, melunasi utang, membunuh kalajengking, atau tidur siang bagi yang istirahat. (Mukhtashar Khalil, hlm. 211)

Dalam kitab penjelasannya, Mawahib al-Jalil dinyatakan,

يعني أنه يجوز قضاء الدين في المسجد لأنه معروف بخلاف البيع والصرف

Artinya, boleh bayar utang di masjid. karena ini hal biasa. Berbeda dengan jual beli dan berdagang. (Mawahib al-Jalil, 7/616).

Jika Utangnya Besar, Makruh

Kita simak keterangan at-Thurthusyi dalam al-Hawadits wa al-Bida’

روى ابن القاسم عن مالك في ” المجموعة “: ” لا بأس أن يقضى الرجل في المسجد ذهبا، فأما ما كان بمعنى التجارة والصرف؛ فلا أحبه “.

Ibnul Qosim meriwayatkan dari Imam Malik dalam kitab al-Majmu’ah, “Tidak masalah seseorang melunasi utang emas di masjid. Namun jika utang ini mirip seperti jual beli, atau tukar mata uang, maka aku tidak menyukainya.”

Lalu at-Thruthusyi berkomentar,

وإنما أراد بالقضاء المعتاد الذي فيه يسير العمل، وقليل العين، وأما لو كان قضاء المال جسيما، يحتاج إلى المؤنة والوزن والانتقاد، ويكثر فيه العمل؛ فإنه مكروه

Yang beliau maksudkan adalah pelunasan utang yang biasa terjadi. Tidak butuh banyak aktivitas dan nilainya sedikit. Namun jika nilai utangnya besar, butuh banyak dihitung, banyak kerjaan, maka hukumnya makruh. (al-Hawadits wa al-Bida, hlm. 120)

Allahu a’lam

Nah, itulah jawaban tentang “Apa Hukumnya Bayar Utang di Masjid dalam Islam ?”

Maka dari itu hal yang dapat kita simpulkan adalah:

Boleh bayar utang dalam masjid asalkan jumlahnya sedikit (tidak perlu waktu untuk menghitungnya)

(Sumber: https://pengusahamuslim.com/4840-bolehkah-bayar-utang-di-masjid.html)

Categories
Bisnis Fiqih Muamalah Islam

Hukum Jual Beli Perhiasan Emas Secara Kredit dalam Islam

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Hukum Jual Beli Perhiasan Emas Secara Kredit

Perhiasan emas adalah sebuah benda paling berharga umumnya dikalangan para wanita. Hal yang mendorong mereka untuk memiliki emas adalah kebutuhan dalam berhias, juga sebagian lainnya bertujuan untuk menjadikan alat investasi sehingga nilai uang rupiah mereka tetap stabil.

Tuntutan ini menjadi orang ingin memiliki emas. baik dibeli tunai atau secara kredit.

Sekarang sudah banyak instansi yang menawarkan transaksi emas secara kredit. Tujuannya adalah untuk memudahkan masyarakat dalam pembelian yang ringan, sehingga angsuran pembayaran menjadi pilihan dominan.

Namun, bagaimanakah Islam memandang hal seperti ini ? Emas termasuk salah satu benda ribawi, apakah tidak terdapat riba didalamnya jika dibayar secara tak tunai ?

Mari kita simak penjelasan berikut ini.

 

Hukum Jual Beli Perhiasan Emas Secara Kredit

Kasus:

Bolehkah murabahah emas? Maksudnya jual beli emas secara kredit?

Jawab:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ulama berbeda pendapat untuk jual beli perhiasan dari emas dan perak secara tidak tunai? Perselisihan ini kembali kepada pertimbangan, status barang ribawi pada emas dan perak, apakah hanya berlaku selama dia menjadi alat tukar ataukah tidak?.

2 Pendapat Ulama Mengenai Hukum Jual Beli Perhiasan Emas Secara Kredit

Pendapat Syaikul Islam, Ibnul Qoyim, dan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di.

Pendapat Pertama, dibolehkan jual beli perhiasan dari emas atau perak secara kredit. Karena status emas berlaku sebagai benda ribawi, selama dia berstatus sebagai alat tukar.

Jika logam mulia ini tidak lagi menjadi alat tukar, maka statusnya menjadi komoditas (sil’ah). Artinya statusnya bukan barang ribawi. Sehingga tidak berlaku aturan barang ribawi di sana.

Dalam al-Ikhtiyarat, Syaikhul Islam mengatakan,

ويجوز بيع المصوغ من الذهب والفضة بجنسه من غير اشتراط التماثل؛ ويجعل الزائد في مقابلة الصيغة ليس بربا

Boleh menjual emas atau perak yang dibentuk (perhiasan) dengan emas sejenisnya, tanpa disyaratkan adanya kesamaan kuantitas. Dan adanya selisih itu sebagai ganti dari bentuk yang berbeda, dan ini bukan riba. (al-Ikhtiyarat, hlm. 473)

Dalam I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qoyim mengatakan,

أن الحلية المباحة صارت بالصنعة المباحة من جنس الثياب والسلع لا من جنس الأثمان ولهذا لم تجب فيها الزكاة فلا يجري الربا بينها وبين الأثمان كما لا يجري بين الأثمان وبين سائر السلع وإن كانت من غير جنسها فإن هذه بالصناعة قد خرجت عن مقصود الأثمان وأعدت للتجارة

“Bahwa perhiasan yang mubah, ketika diproduksi dengan cara yang mubah, berubah statusnya menjadi jenis pakaian dan barang. Bukan lagi mata uang. Karena itu, tidak wajib dizakati dan tidak berlaku hukum barang ribawi, ketika ditukar antara perhiasan dengan uang. Sebagaimana tidak berlaku aturan ibawi antara uang dengan barang lainnya, meskipun tidak sejenis. Karena, dengan proses produksi menyebabkan fungsi emas tidak lagi mata uang tapi menjadi barang dagangan.” (I’lamul Muwaqqi’in, 2/160)

Pendapat Jumhur Ulama, dari Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali

Pendapat Kedua, tidak boleh jual beli emas dan perak secara kredit. Baik bentuknya koin alat tukar atau perhiasan yang bukan alat tukar. Karena emas dan perak, akan selalu menjadi barang ribawi, sekalipun dia tidak dijadikan alat tukar.

(Artikel: Ba’I ad-Dzahab bi at-Taqsith, Abdul Hamid Syauqi)

Tarjih (pemilihan pendapat yang mendekati kebenaran)

Pendapat jumhur ulama dalam hal ini lebih mendekati kebenaran, dengan beberapa alasan,

[1] Adanya ijma’ (kesepakatan) ulama bahwa jual beli emas dan perak, harus tunai.

Sebagaimana keterangan an-Nawawi,

تحريم النَّسِيئَة، وهو حرامٌ في الجنس، والجنسين، إذا كان العِوَضَان -جميعاً- من أموال الرِّبا، كالذَّهب بالذَّهب, والذَّهب بالفضَّة، والحِنْطَة بالحِنْطَة، والحِنْطَة بالتَّمر، وذلك مُجمعٌ عليه بين المسلمين

Haram melakukan transaksi kredit untuk yang sejenis atau beda jenis, jika keduanya barang ribawi. Seperti emas dengan emas, atau emas dengan perak, atau gandum dengan gandum atau gandum dengan kurma. Dan ini disepakati kaum muslimin. (al-Majmu’, 10/68).

Sementara pendapat yang tidak sejalan dengan ijma’, tidak bisa diterima.

[2] Pendapat jumhur sejalan dengan teks hadits

Teks hadis menyatakan, “Emas dengan emas, perak dengan perak,… dst” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Dinar dengan dinar, dirham dengan dirham… dst.” yang ini merupakan alat tukar.

artinya, alasan dia berstatus sebagai barang ribawi adalah karena dia emas atau perak. Bukan karena semata alat tukar.

[3] Sejalan dengan hadis dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu,

اشْتَرَيْتُ يَوْمَ خَيْبَرَ قِلاَدَةً بِاثْنَىْ عَشَرَ دِينَارًا فِيهَا ذَهَبٌ وَخَرَزٌ فَفَصَّلْتُهَا فَوَجَدْتُ فِيهَا أَكْثَرَ مِنِ اثْنَىْ عَشَرَ دِينَارًا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىّ

Ketika persitiwa Khaibar, Aku membeli kalung seharga 12 dinar berupa emas yang ada permatanya. Kemudian aku pisahkan, ternyata emasnya lebih dari 12 dinar. Aku sampaikan itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, perintah beliau,

لاَ تُبَاعُ حَتَّى تُفَصَّلَ

“Jangan dijual belikan sampai dipisahkan.” (HR. Muslim 4160 & Ahmad 24689)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan untuk dipisahkan, agar diketahui beratnya, sehingga memungkinkan untuk dijual dengan dinar dengan kuantitas yang sama.

Sekalipun emas yang dimiliki Fadhalah bentuknya kalung – dan tentu saja bukan alat tukar – namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memberlakukannya sebagai barang ribawi. Karena itu, beratnya harus dikethaui ketika hendak dijual.

Allahu a’lam.

Itulah pandangan para Ulama mengenai Hukum Jual Beli Perhiasan Emas Secara Kredit. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari artikel ini.

Sumber: https://pengusahamuslim.com/5083-boleh-jual-beli-perhiasan-emas-secara-kredit.html

Categories
Fiqih Muamalah Ibadah Praktis Islam

Hukum Upah untuk Muadzin dan Imam Masjid dalam Islam

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Hukum Upah untuk Muadzin dan Imam Masjid dalam Islam

Muadzin adalah seseorang yang mengumandangkan Adzan ketika waktu shalat telah tiba, sedangkan Imam adalah seseorang yang memimpin jalannya shalat.

Pada umumnya disetiap mesjid memiliki Imam Rawatib dan juga Muadzin tetap (biasanya juga berprofesi sebagai marbot mesjid). Hal ini demikian sering kita jumpai disetiap mesjid, orang-orang yang tinggal dekat dengan mesjid menjadi anggota pengurus mesjid.

Beberapa diantaranya ada yang melakukan pekerjaan ini dengan sukarela, ada pula yang memang mesjid memberikan intensif bulanan kepada pengurus mesjid sebagai balas budi jerih payah pengurusan mesjid.

Namun, bagaimana hukumnya kasus seperti ini dalam pandangan islam?

Apakah boleh mengambil upah dari pekerjaan sebagai Muadzin tetap atau Imam Rawatib ?

Mari simak penjelasan berikut ini.


Hukum Upah untuk Muadzin dan Imam Masjid dalam Islam

Kasus:

Bagaimana Hukum Upah untuk Muadzin dan Imam Masjid dalam Islam ?

Jawab:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Untuk semua ibadah murni, tidak ada sisi manfaat langsung bagi orang lain, tidak boleh meminta upah di sana.

Landasan Nash

Dalam hadis dari Utsman bin Abil Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

وَاتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا

Ambilah muadzin yang tidak meminta upah untuk adznnya. (HR. Ahmad 16270, Nasai 680 dan dishahihkan al-Arnauth)

Hadis ini menunjukkan, salah satu diantara muadzin yang baik adalah muadzin yang tidak mengambil upah. (Subulus Salam, 1/128).

Hanya saja, aturan berlaku, jika upah itu hanya untuk adzannya. Berbeda jika di sana ada bentuk aktivitas yang dia lakukan.

Pendapat Ulama

As-Shan’ani menyatakan,

ولا يخفى أنه – يعني حديث عثمان بن أبي العاص – لا يدل على التحريم وقيل: يجوز أخذها على التأذين في محل مخصوص إذ ليست على الأذان حينئذ بل على ملازمة المكان كأجرة الرصد

Hadis Utsman bin Abil ‘Ash tidaklah menunjukkan haramnya menerima upah untuk muadzin. Ada yang mengatakan, “Boleh mengambil upah untuk adzan dalam kondisi tertentu. Karena upahnya bukan sebatas untuk adzannya tapi untuk perjuangan dia yang selalu siaga, seperti upah untuk orang yang mengintai.” (Subulus Salam, 1/128).

Ketika di sana ada tugas tambahan, yang sifatnya bukan semata mengumandangkan adzan, para ulama membolehkan muadzin digaji. Merek digaji karena telah memberikan layanan bagi kaum muslimin.

Ibnu Qudamah mengatakan,

لأن بالمسلمين حاجة إليه وقد لا يوجد متطوع به وإذا لم يدفع الرزق فيه يعطل

Karena kaum muslimin membutuhkan orang semacam ini. Sementara bisa jadi tidak ada orang yang mau secara suka rela melakukannya. Jika dia tidak digaji, bisa menelantarkan hidupnya. (al-Mughni, 1/460)

Selama di tengah kaum muslimin tidak ada orang yang secara suka rela melayani kebutuhan mereka dalam menjaga aktivitas ibadah, maka boleh memperkerjakan orang untuk menjalani tugas itu dan dia digaji.

Allahu a’lam.

 

Sumber: https://pengusahamuslim.com/5212-hukum-upah-untuk-muadzin-dan-imam-masjid.html

Categories
Bisnis Fiqih Muamalah Islam

Bagaimana Hukum Memanfaatkan Barang Gadai dalam Islam ?

Artikel kali ini, Ikhsanisme akan membahas tentang Bagaimana Hukum Memanfaatkan Barang Gadai dalam Islam

Urusan utang piutang menjadi hal yang lumrah di mata masyarakat. Terlihat dari banyaknya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, sehingga mendorong kita untuk mengambil utang pada orang lain maupun pada instansi.

Tak mudah juga dalam mendapatkan utang, harus melalui prosedur. Salah satunya harus memiliki barang yang bernilai untuk dijadikan barang jaminan kepada si Pemberi utang.

Menggadaikan barang untuk mendapatkan utang telah banyak jasa instansi yang menawarkan. Namun timbul pertanyaan bagi kita, apakah boleh jika sekiranya barang gadai tersebut digunakan atau diambil manfaatnya ?

Islam telah mengatur hukum Barang Gadai ini dan dijelaskan oleh Ulama.

Bagaimana Hukum Memanfaatkan Barang Gadai dalam Islam ?

Kasus:

Bismillah. Ustadz, jika kita meminjam uang dari orang lain dengan barang jaminan motor misalnya (gadai), apakah si pemberi pinjaman bisa memakai motor tersebut, dengan atau tanpa izin dari kita? Atau motor tersebut dibiarkan saja tidak dipakai di tempat orang tersebut, sampai kita melunasi utang kita?

Jawab:

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com). 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya, kita akan menyeragamkan istilah.

Pengantar Kasus

Si A berutang 2 jt kepada si B dengan jaminan motor x. Dalam fiqh muamalah, posisi si A yang berutang dengan jaminan motor disebut Rahin. Sementara posisi si B yang menerima jaminan disebut Murtahin. Dan barang yang digadaikan dinamakan Rahn.

Pada dasarnya, dalam transaksi gadai, tujuan utama adanya barang gadai hanya untuk jaminan kepercayaan dan keamanan. Dan bukan untuk memberi keuntungan bagi pihak yang menerima gadai (murtahin).

Prinsip ini yang perlu kita pegang. Sehingga kita bisa memahami bahwa barang gadai (rahn) yang diserahkan oleh Rahin kepada Murtahin, statusnya tidak berpindah kepemilikan. Artinya, barang tetap menjadi milik Rahin.

Yang terjadi, ketika murtahin memanfaatkan barang gadai, berarti dia memanfaatkan barang milik murtahin, karena transaksi utang antar mereka. Bisa kita pastikan, andaikan tidak ada transaksi utang piutang, murtahin tidak akan memanfaatkan barangnya rahin. Itu berarti, murtahin mendapatkan manfaat dari utang yang dia berikan. Sementara mengambil manfaat (keuntungan) dari utang yang diberikan, termasuk riba.

Kita simak keterangan Sayid Sabiq dalam Fiqh Sunah,

عقد الرهن عقد يقصد به الاستيثاق وضمان الدين وليس المقصود منه الاستثمار والربح، وما دام ذلك كذلك فإنه لا يحل للمرتهن أن ينتفع بالعين المرهونة، ولو أذن له الراهن، لانه قرض جر نفعا، وكل قرض جر نفعا فهو ربا

Akad rahn adalah akad yang tujuannya untuk menjamin kepercayaan dan jaminan utang. dan bukan untuk dikembangkan atau diambil keuntungan. Jika seperti itu aturannya, maka tidak halal bagi murtahin untuk memanfaatkan barang yang digadaikan, meskipun diizinkan oleh rahin. Karena berarti utang yang memberikan adanya keuntungan. Dan semua utang yang memberikan keuntungan, statusnya riba. (Fiqh Sunah, 3/156).

Dan seperti itulah yang dipahami para sahabat. Kita akan simak beberapa riwayat yang menyebutkan keterangan dari mereka.

Al-Baihaqi menyebutkan riwayat pernyataan sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu,

كُلُّ قَـرضٍ جَرَّ مَنفَـعَـةً فَهُوَ رِباً

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Kemudian al-Baihaqi mengatakan,

وروينا عن ابن مسعود ، وابن عباس ، وعبد الله بن سلام ، وغيرهم في معناه ، وروي عن عمر ، وأبي بن كعب ، رضي الله عنهما

Kami juga mendapatkan riwayat dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdullah bin Sallam, dan yang lainnya, yang semakna dengan itu. Demikian pula yang diriwayatkan dari Umar dan Ubay bin Ka’b Radhiyallahu ‘anhu. (as-Sunan as-Sughra, 4/353).

Keterangan sahabat ini menjadi kaidah sangat penting dalam memahami riba. Setiap keuntungan yang didapatkan dari transaksi utang piutang, statusnya riba.

Keuntungan yang dimaksud mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” (HR. Ibnu Majah 2526).

Dalam riwayat yang lain, dari Abdullah bin Sallam, bahwa beliau mengatakan,

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ ، فَلاَ تَأْخُذْهُ ، فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3814).

Subhanallah, sampai seperti itu tingkat kejelian sahabat dalam memahami riba.

Bagaimana Jika itu Atas Kerelaan Rahin?

Dalam transaksi riba, kerelaan kedua belah pihak tidak teranggap. Karena riba bukan tijaroh, yang dipersyaratkan harus ‘an taradhin (saling riba). Dinamakan riba, karena dilakukan saling ridha.

Jika itu dilakukan tanpa kerelaan rahin, berarti murtahin melakukan ghasab. Merampas hak murtahin. Dan ini dosa yang lain.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ : دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (HR. Muslim 6706).

Jika Gadai Membutuhkan Perawatan

Menurut Madzhab Hambali, jika gadai yang ada di tangan murtahin membutuhkan biaya perawatan, seperti binatang, maka murtahin berhak untuk mengambil manfaat dari binatang itu, dengan diperah susunya atau dijadikan tunggangan. Sebagai kompensasi atas biaya yang dia keluarkan.

Dalam Fiqih Sunah dinyatakan,

فإن كان دابة أو بهيمة فله أن ينتفع بها نظير النفقة عليها فإن قام بالنفقة عليها كان له حق الانتفاع، فيركب ما أعد للركوب كالابل والخيل والبغال ونحوها ويحمل عليها، ويأخذ لبن البهيمة كالبقر والغنم ونحوها

Jika barang gadai berupa hewan tunggangan atau binatang ternak, maka murtahin boleh memanfaatkannya sebagai ganti dari biaya yang dia keluarkan untuk itu. Orang yang menanggung biaya, dia berhak untuk memanfaatkan baranng itu. Dia boleh menaikinya jika itu hewan tunggangan seperti kuda, onta, atau bighal. Dan boleh dipakai untuk ngangkkut barang. Dia juga boleh mengambil susunya jika hewannya bisa diperah, seperti kambing atau sapi. (Fiqh Sunah, 3/157)

Ini berbeda dengan pendapat mayoritas ulama yang melarang sama sekali pemanfaatan barang gadai oleh murtahin.

Namun pendapat hambali dalam hal ini lebih kuat, mengingat hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَبَنُ الدَّرِّ يُحْلَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَالظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِى يَرْكَبُ وَيَحْلِبُ النَّفَقَةُ

Susu hewan perah bisa diperah sebagai ganti biaya perawatan ketika dia digadaikan. Punggung hewan tunggangan boleh dinaiki sebagai ganti biaya perawatan ketika dia digadaikan. Kewajiban bagi yang menunggangi dan yang memerah susunya untuk merawatnya. (HR. Abu Daud 3528 dan dishahihkan al-Albani)

Namun tentu saja ini tidak berlaku untuk motor. Karena motor tidak perlu biaya perawatan. Kalaupun harus dipanasi, itu hanya sebentar dan jika murtahin tidak rela, dia bisa ganti biaya perawatan dengan memakai motor itu untuk keperluan sebentar.

Demikian, Allahu a’lam

(Sumber: https://pengusahamuslim.com/4572-memanfaatkan-barang-gadai.html)